Dari Sa'id bin Musayyab Radhiyallahu anhu, bahwa ia melihat seseorang mengerjakan lebih dari dua rakaat shalat setelah terbit fajar. Lalu beliau melarangnya. Maka orang itu berkata, "Wahai Sa'id, apakah Allah akan menyiksa saya karena shalat?", lalu Sa'id menjawab :"Tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena menyalahi sunnah"

[SHAHIH. HR Baihaqi dalam "As Sunan Al Kubra" II/466, Khatib Al Baghdadi dalam "Al Faqih wal mutafaqqih" I/147, Ad Darimi I/116].



WAJIBKAH MENDATANGI UNDANGAN WALIMAH PERNIKAHAN ??

Share/Bookmark
Posted By Abu Ayaz

Kategori :

Sudah di lihat :



Oleh : Ust. Abul Jauzaa'

Pertanyaan :
Saya sering diundang teman atau karib kerabat pada walimah (resepsi) pernikahan. Saya tahu, bahwasannya menghadiri undangan walimah itu wajib. Akan tetapi saya sering ragu untuk datang karena di dalam walimah tersebut ada hal-hal yang tidak saya sukai. Apa nasihat Anda mengenai hal ini ?

Jawab :
Betul apa yang Saudara katakan bahwasannya wajib hukumnya untuk menghadiri undangan walimah. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

فكوا العاني، وأجيبوا الداعي، وعودوا المريض

“Bebaskanlah tawanan, penuhilah undangan, dan jenguklah orang sakit” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 5174, Ahmad 4/394 & 406, Abu Dawud no. 3105, Ad-Darimi no. 2508, dan ‘Abd bin Humaid no. 553; dari hadits Abu Musa Al-Asy’ary radliyallaahu ‘anhu].

إذا دعا أحدكم أخاه فليجب، عرسا كان أو نحوه

“Bila salah seorang diantara kalian diundang (untuk menghadiri walimah), maka hendaklah memenuhi undangan tersebut, baik acara pernikahan atau acara lainnya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 5173, Muslim no. 1429, Ahmad 2/146, Abu Dawud no. 3738, dan Al-Baihaqi 7/262; dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma]

Bahkan, orang yang sedang berpuasa pun tetap wajib memenuhi undangan walimah tersebut, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

إذا دعي أحدكم إلى طعام فليجب، فإن كان مفطراً فليطعم، وإن كان صائماً فليصل. يعني: الدعاء

“Bila salah seorang diantara kalian diundang untuk menghadiri jamuan makan, hendaklah ia memenuhi undangan tersebut. Jika tidak sedang berpuasa hendaklah ia ikut makan. Dan jika sedang berpuasa hendaklah ia ikut mendoakan” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1431, Ahmad 2/507, Al-Baghawiy no. 1816, dan Al-Baihaqi 7/263; dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu].

Dan orang yang berpuasa itu boleh untuk berbuka (jika ia melakukan puasa sunnah), sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam :

إذا دعي أحدكم إلى طعام فليجب. فإن شاء طعم، وإن شاء ترك

“Bila salah seorang dari kalian diundang menghadiri jamuan makan, hendaklah memenuhi undangan tersebut. Bila dia mau, silakan makan. Dan bila tidak mau, biarkan saja (tidak dimakan)” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 1430, Ahmad 3/392, Abu Dawud no. 3740, Ibnu Majah no. 1751, ’Abd bin Humaid no. 1064, dan Ath-Thahawi dalam Musykilul-Atsar 4/148; dari Jaabir bin ’Abdillah radliyallaahu ’anhu].

Hadits-hadits yang disebutkan di atas merupakan penekanan tentang wajibnya memenuhi undangan walimah. Akan tetapi kewajiban itu bisa gugur apabila acara walimah mengandung kemaksiatan atau diduga kuat mengandung kemaksiatan (kepada Allah ta’ala).

Dari Ali radliyallaahu ’anhu ia berkata :

صنعت طعاماً فدعوت رسول الله صلى الله عليه وسلم، فجاء فرأى في البيت تصاوير، فرجع [قال: فقلت: يا رسول الله! ما أرجعك بأبي أنت وأمي؟ قال: إن في البيت ستراً فيه تصاوير، وإن الملائكة لا تدخل بيتاً فيه تصاوير]

”Suatu ketika saya membuat makanan, kemudian saya undang Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam. Ketika beliau datang, beliau melihat gambar-gambar (makhluk hidup) di rumah saya. Beliau pulang. [Saya bertanya : Wahai Rasulullah, ayah dan ibuku menjadi tebusan, apa yang membuatmu pulang?”. Beliau menjawab : ”Di dalam rumahmu ada tabir yang bergambar. Sesungguhnya malaikat tidak mau masuk ke dalam rumah yang di dalamnya ada gambar-gambar” ]. [Diriwayatkan oleh Ibnu Majah no. 3359, An-Nasa’iy 8/213, dan Abu Ya’la no. 436 & 521 dengan sanad shahih].

Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam bersabda :

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر؛ فلا يقعدن على مائدة يدار عليها بالخمر

”Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah duduk mengitari meja makan yang di situ dihidangkan khamr/minuman keras” [Diriwayatkan oleh Ahmad 1/20, Abu Ya’laa no. 251, Al-Baihaqiy 7/266, dan At-Tirmidzi no. 2801; dari ’Umar bin Khaththab radliyallaahu ’anhu - shahih. Lihat Irwaaul-Ghalil 7/6-8 no. 1949].

عن أبي مسعود - عقبة بن عمرو- أن رجلاً صنع له طعاماً، فدعاه، فقال: أفي البيت صورة؟ قال: نعم، فأبى أن يدخل حتى كسر الصورة ثم دخل

Dari Abu Mas’ud, yaitu ’Uqbah bin ’Amir, diriwayatkan bahwa pernah ada seseorang membuat makanan untuknya. Lalu dia mengundang Abu Mas’ud untuk makan. Abu Mas’ud bertanya kepadanya,”Apakah di dalam rumahmu ada gambar-gambar (makhluk hidup)?”. Orang tersebut menjawab,”Ada”. Abu Mas’ud tidak mau masuk sebelum gambar tersebut dirobek. Setelah gambar tersebut dirobek barulah dia mau masuk” [HR. Al-Baihaqi dengan sanad shahih sebagaimana disebutkan Al-Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul-Bari 9/204].

Al-Imam Al-Auza’i rahimahullah berkata :

لا ندخل وليمة فيها طبل ولا معزاف

”Kami tidak mau mendatangi acara walimah yang di situ ada tambur dan mi’zaf (semacam gitar)” [Diriwayatkan oleh Abul-Hasan Al-Harbi dalam Al-Fawaaid Al-Muntaqaah 4/3/1 dengan sanad shahih, sebagaimana dalam Aadaabuz-Zifaaf oleh Asy-Syaikh Al-Albaniy rahimahullah hal. 165-166; Daarus-Salaam, Cet. Thn. 1423 H].

Kesimpulan : Menghadiri undangan walimah pada asalnya adalah wajib. Akan tetapi kewajiban ini gugur bila di dalam walimah itu terdapat kemunkaran-kemunkaran seperti : dipasang gambar-gambar makhluk bernyawa, ditabuh alat-alat musik serta nyanyian yang tidak syar’i, ikhtilath (bercampur-baurnya antara undangan laki-laki dan wanita), disuguhkan makanan yang haram, dan lain-lain.
Wallaahu a’lam.



Sumber : http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/10/wajibkah-mendatangi-undangan-walimah.html


Share

Comments (0)

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.