Dari Sa'id bin Musayyab Radhiyallahu anhu, bahwa ia melihat seseorang mengerjakan lebih dari dua rakaat shalat setelah terbit fajar. Lalu beliau melarangnya. Maka orang itu berkata, "Wahai Sa'id, apakah Allah akan menyiksa saya karena shalat?", lalu Sa'id menjawab :"Tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena menyalahi sunnah"

[SHAHIH. HR Baihaqi dalam "As Sunan Al Kubra" II/466, Khatib Al Baghdadi dalam "Al Faqih wal mutafaqqih" I/147, Ad Darimi I/116].



ADAB PENUNTUT ILMU DALAM BERTANYA

Share/Bookmark
Posted By Abu Ayaz

Kategori : , ,

Sudah di lihat :



Hendaklah setiap penuntut ilmu syar'i memiliki adab-adab di dalam bertanya sehingga dirinya bisa mengambil manfaat dari pertanyaan tersebut.

Di antara adab-adab tersebut adalah:

1. Ikhlash dalam bertanya

Di antara ikhlash dalam bertanya adalah bertanya untuk menghilangkan kebodohan dari diri kita atau diri orang lain, bukan untuk berdebat kusir atau sombong dihadapan para ulama atau riya (supaya dikatakan orang yang bersemangat menuntut ilmu).... See More

2. Memperbagus pertanyaan

Ketika menjelaskan bahwa ilmu itu memiliki enam tingkatan, Al-Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah rahimahullah menyebutkan bahwa tingkatan pertama adalah bagusnya pertanyaan:

وللعلم ست مراتب أولها حسن السؤال...فمن الناس من يحرمه لعدم حسن سؤاله أما لأنه لا يسأل بحال أو يسأل عن شيء وغيره أهم إليه منه كمن يسأل عن فضوله التي لا يضر جهله بها ويدع ما لا غنى له عن معرفته وهذه حال كثير من الجهال المتعلمين ومن الناس من يحرمه لسوء إنصاته فيكون الكلام والممارات آثر عنده وأحب اليه من الانصات وهذه آفة كامنة في أكثر النفوس الطالبة للعلم وهي تمنعهم علما كثيرا ولو كان حسن الفهم

"Ilmu memiliki enam tingkatan, yang pertama adalah bagusnya pertanyaan… dan sebagian orang ada yang tidak mendapatkan ilmu karena jeleknya pertanyaan, mungkin karena dia tidak bertanya sama sekali, atau bertanya tentang sesuatu padahal di sana ada sesuatu yang lebih penting yang patut ditanyakan seperti bertanya tentang sesuatu yang sebenarnya tidak mengapa kita tidak mengetahuinya dan meninggalkan pertanyaan yang harus kita ketahui, dan ini adalah keadaan kebanyakan dari para penuntut ilmu yang bodoh. (Miftah Daris Sa'adah, hal:169)

Di antara pertanyaan yang bagus adalah pertanyaan tentang ilmu yang bermanfaat yaitu ilmu yang menunjukkan kita kepada kebaikan dan mengingatkan kita dari kejelekan.
Adapun yang selainnya maka itu akan membawa mudharat atau tidak ada faidahnya.

Allah telah menyebutkan di dalam Al-Quran sebagian dari pertanyaan-pertanyaan yang tidak bermanfaat ... See Moreseperti pertanyaan orang-orang musyrik tentang kapan hari kiamat (Al-A'raf:187) dan pertanyaan orang yahudi tentang ruh (Al-Isra': 85), Atau pertanyaan tentang sesuatu yang tidak mungkin terjadi atau jarang sekali karena itu termasuk berlebih-lebihan dan berprasangka belaka.

3. Menggunakan cara yang baik dalam bertanya

Di antaranya adalah berlemah lembut dalam bertanya karena yang demikian itu akan menjadikan yang ditanya memberikan ilmunya sebaik-baiknya.

Berkata Imam Az-Zuhri rahimahullah

وكان عبيد الله يلطفه فكان يعزه عزا

"Dahulu Ubaidullah (yakni bin Abdullah bin 'Utbah, seorang tabi'in) berlemah lembut ketika bertanya kepada Ibnu 'Abbas, maka beliau (Ibnu 'Abbas) memberinya ilmu yang banyak." [Diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad bin Hambal di Al-'Ilal wa Ma'rifatur Rijal (1/186), dan Ibnu Sa'd dalam Ath-Thabaqat Al-Kubra (5/250)]

Dan berkata Ibnu Juraij rahimahullah:
لم أستخرج الذي استخرجت من عطاء إلا برفقي به

" Tidaklah aku mengambil ilmu 'Atha kecuali dengan kelembutanku kepadanya." [Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jami Bayanil 'Ilmi wa Fadhlih (2/423)]

Di antara kebaikan dalam bertanya adalah mencari situasi dan kondisi yang tepat untuk bertanya.

4. Berdiskusi dengan cara yang baik kalau ada yang tidak disetujui dari jawaban orang yang ditanya.

5. Tidak mengadu domba di antara ahli ilmu seperti mengatakan: Tapi ustadz fulan (dengan menyebut namanya) mengatakan demikian.

Maka yang demikian termasuk kurang beradab. Kalau memang harus bertanya, maka hendaklah mengatakan: "Apa pendapatmu tentang ucapan ini?" Tanpa menyebut nama orang yang mengucapkan.... See More
(Lihat Hilyah Thalibil Ilmi, Syaikh Bakr Abu Zaid dengan syarh Syaikh 'Utsaimin, hal: 178).

6. Tidak memotong perkataan guru sampai beliau menyelesaikannya.

Imam al-Bukhari berkata: Bab barangsiapa yang ditanya tentang ilmu, sedangkan dia sibuk berbicara, maka selesaikan dulu permbicaraannya. Kemudian beliau membawakan hadits:

أَنَّ أَعْرَابِياًّ قَالَ وَالنَّبِيُّ يَخْطُبُ: مَتَى السَّاعَةُ؟ فَمَضَى الرَّسُوْلُ فِي حَدِيْثِهِ وَأَعْرَضَ عَنْهُ حَتَّى إِذَا قَضَى حَدِيْثَهُ قَالَ: أَيْنَ أَرَاهُ السَّائِلُ عَنِ السَّاعَةِ؟

Ada seorang Arab Badui bertanya kapan hari kiamat tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkhutbah, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melanjutkan khutbahnya dan berpaling dari orang itu, tatkala Nabi menyelesaikan khutbahnya, kemudian bertanya: “Dimana orang yang tadi bertanya tentang hari kiamat.” (Al-Fath, jilid 1, hlm. 171)

7. Ibnul Jauzi rahimahullah berkata : “Kapan saja ada yang tidak dapat dipahami dari perkataan guru oleh muridnya, hendaklah dia bersabar sampai sang guru menyelesaikan ucapannya, baru kemudian dia meminta penjelasan gurunya dengan penuh adab dan kelembutan dan tidak memotong di tengah-tengah pembicaraannya.” (Al-Adab asy-Syar’iyyah, jilid 2, hlm. 163)

8. Sopan tatkala mengajukan pertanyaan kepada guru
, tidak menanyakan sesuatu yang dibuat-buat atau berlebihan atau menanyakan sesuatu yang sudah tahu jawabannya dengan tujuan supaya gurunya tidak mampu menjawab dan menunjukkan bahwa dia tahu jawabannya, atau menanyakan sesuatu yang belum terjadi, dimana salafush shalih mencela hal seperti ini apabila pertanyaan itu dibuat-buat.

[Tahdzib at-Tahdzib, jilid 8, hlm. 274, as-Siyar, jilid 1, hlm. 398]
Sumber : http://www.facebook.com/home.php?#!/profile.php?id=1084713685&v=wall&story_fbid=131743003509861&ref=nf


Share

Comments (0)

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.